Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

MONEY-LESS

This writing was taken from the book entitled Moneyless Man written by Mark Boyle...

The idea of this book was really fantastic..Mark Boyle was on experiment, trying to live without money in more environmental ways..Because he thought that Money just can bring a bad impact on the way we live, not only the social relationship but also for the environment..
But this blog, just will share you how ridiculous Money has changed the way we live..I wish this short summary can give you an idea on how do we supposed to live?
Enjoy reading :) 

Didalam sistem keuangan modern, kebanyakan uang ditujukan sebagai utang oleh bank-bank swasta. Bayangkan misalnya cuma ada satu bank. Pak Smith yang sampai sekarang masih menyimpan uangnya dibawah ranjang memutuskan untuk menyimpan tabungan seumur hidupnya sebanyak 100 cangkang dibank tersebut. Dikarenakan bank ingin mendapatkan laba, jadi bank memutuskan untuk meminjamkan sebagian cangkang Pak Smith, katakanlah 90 cangkang, dan menyimpan 10 cangkang kalau kalau Pak Smith ingin melakukan penarikan dalam jumlah kecil. Kemudian seorang laki-laki lain, Pak Jones, butuh pinjaman. Dia pergi ke bank untuk memperoleh pinjaman sebanyak 90 cangkang, yang pada akhirnya harus dibayarkannya dengan bunga. Pak Jones mengambil cangkang itu dan memilih menghabiskannya  untuk membeli roti yang dibeli Bu Baker. Mendekati hari pengembalian, Bu Baker membawa 90 karang yang baru saja diperolehnya ke bank..

Sekarang, ada 190 cangkang di bank. Uang telah dihasilkan. Terlebih lagi, sekarang bank bisa meminjamkan sebgaian dari tabungan Bu Baker! Proses itu terus berulang. Tentu saja jumlah fisik dari cangkang tersebut tidak berubah. Masalah bermula ketika bank meminjamkan 90% kerang dari para penabungnya. Hasilnya, dari semua cangkang yang ditabung di bank dunia rekaan ini, hanya 10% yang ada. Jika semua penabung menginginkan lebih dari 10% dari seluruh jumlah cangkang pada waktu yang bersamaan, bank itu akan jatuh dan orang akan sadar bahwa bank telah menciptakan uang khayalan..

Sistem ini mungkin tampak menggelikan, tetapi inilah yang terjadi sekarang, setiap hari, di tiap negara di dunia. Alih alih Cuma satu bank, kini telah ada ribuan bank. Selain cangkang kerang, kita mempunyai banyak sekali mata uang di dunia. Namun prinsipnya sama: sebagian besar uang dihasilakn dengan peminjaman oleh bank swasta. Komoditas kita yang paling berharga tidak mewakili apapun yang bernilai dan angka-angka di tabungan anda mungkin adalah utang orang lain, dan demikianlah selanjutnya.

Baru baru ini banyak krisis-krisi bank yang kita temui, menunjukkan ketidakstabilan yang sudah menjadi sifatnya yang berasal dari peletakkan dasar sistem keuangan kita pada sumber khayalan. Bangunan besar ini dibangun di atas muslihat, seerti ditunjukkan oleh bail-out bank di seluruh dunia pada tahun 2009, para pembayar pajak mau tidak mau harus mensubsidi miliaran untuk menjaga muslihat ini tetap berjalan ketika sistem ini runtuh.

Agar memperoleh laba, bank mempertahankan tingkat intensifitas yang besar untuk mendapatkan peminjam dengan cara apapun yang mungkin. Menurut pendapatku, kredit yang mereka ciptakan merupakan penyebab dari banyaknya kerusakan lingkungan diplanet ini karena sarana itu memungkinkan kita untuk hidup nyaman melampaui apa yang bisa kita raih. Ya, disatu pihak  penciptaan uang  bagus untuk ekonomi. Namun dilain pihak hal ini tidak bagus untuk orang-orang yang ingin "dilayani" oleh ekonomi.

Pada akhirnya, proses penciptaan uang tidak bisa tidak berarti bahwa yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Sebagai pemberi pinjaman, Bank berhak untuk memperoleh bunga ataupun menjadi pemilik aset-aset rill jika pinjaman yang diberikan tidak dapat dibayarkan kembali...Dalam hal ini, tentunya tidak mengherankan bahwa Prinsip Ketidak Adilan benar benar telah terjadi di dunia ini. 

Mari kembali ke kota kecil kita. Dulu, pada waktu panen, sudah biasa bagi orang-orang untuk saling membantu satu sama lain secara informal, tanpa pertukaran, dan mereka bekerja sama jauh lebih sering dibanding sekarang. Kerjasama ini memberikan mereka rasa aman. Untungnya saat ini di beberapa bagian di dunia masih menanamkan prinsip budaya kerjasama yang baik, dimana melalui kerjasama ini uang dianggap tidak begitu penting. 

Namun, meskipun demikian, pencarian uang dan keinginan manusia untuk memiliki uang yang tidak terpuaskan telah mendorong kita untuk bersaing satu sama lain dalam usaha untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi. Di kota kecil kita, persaingan telah menggantikan kerjasama yang duhulu sangat dihargai. Tidak ada lagi orang yang mau membantu tetangganya memanen tanpa dibayar. Semangat persaingan yang baru ini juga menjadi penyebab banyaknya permasalahan kota, mulai dari rasa ketersaingan sampai ada kenaikan angka bunuh diri, penyakit mental, dan sikap antisocial. Hal ini juga ikut menyumbang pada masalah-masalah lingkungan, seperti penipisan sumber daya dan krisis iklim yang baru-baru ini terjadi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak kenal belas kasihan.


UANG MENGGANTIKAN MASYARAKAT SEBAGAI JAMINAN

Karl Rabeder mengatalan bahwa – uang akan menghambat datangnya kebahagiaan. Selama ini aku percaya bahwa banyaknya kekayaan dan kemewahan otomatis akan membawa banyaknya kebahagiaan. Aku berasal dari keluarga amat miskin yang bertekad untuk bekerja lebih keras untuk mencapai lebih banyak materi dan aku menjalani tekad ini selama bertahun tahun…Namun, aku makin sering mendengar kata-kata:”hentikan apa yang kau lakukan sekarang - semua kemewahan dan konsumerisme ini – dan mulailah hidup sejati. Aku merasa bahwa aku sedang bekerja seperti budak untuk hal yang tidak ku inginkan dan aku butuhkan..”


Orang terikat dengan pemikiran bahwa lebih banyak uang akan membuat mereka lebih bahagia. Ketika mereka memikirkan dampak dari uang banyak, mereka tidak menyadari kenyataan bahwa saat mereka mendapat uang lebih banyak, mereka akan menginginkan lebih banyak lagi..Ketika mereka mendapat uang lebih banyak, mereka akan menginginkan rumah besar. Mereka tidak pernah merasa mempunyai cukup uang sedangkan yang mereka lakukan adalah mengorbankan kehidupan keluarga dan kesehatan untuk mendapatkan uang lebih banyak..-by Richard Easterlin –

Bagi kebanyakan kita, uang mewakili jaminan. Selama kita memiliki uang dibank, kita akan aman. Ini adalah pendapat yang berbahaya untuk diyakini, seperti dibuktikan oleh negara-negara seperti Argentina dan Indonesia, yang baru baru ini telah mengalami hiperinflasi. Periode emas yang dialami dunia pada awal abad 21- sebuah gelembung yang ditiup oleh para eksekutif bank yang penuh tekanan telah meletus. Banyak politisi, ahli ekonomi, dan pengamat masih tidak yakin apakah cuma ada satu duri saja yang menusuk gelembung itu.

Sementara, aku tidak ragu bahwa kita akan melalui masa buruk ini dan mungkin lebih banyak lagi, krisis ekonomi pada masa depan tidak akan terlalu mudha dimanipulasi lagi dan mendorong pemulihan akan lebih sulit karena tantangan-tantangan ini akan dipengaruhi oleh masalah-masalah dunia nyata. Industri perbankan sudah jelas tidak stabil dan dua pilar ekonomi kita; industry asuransi dan perminyakan, pada akhirnya akan mendapat hantaman keras dari dua masalah besar yang terus berkembang: perubahan iklim dan puncak minyak (peak oil)

Peak oil merupakan sebuah masalah besar yang bermuara pasa satu fakta sederhana: seluruh peradaban kita didasarkan pada minyak. Jika anda tidak percaya, lihatlah ke sekitar manapun anda berada sekarang dan coba temukan satu benda yang tidak dibuat dari minyak atau tidak diangkut dengan minyak. Minyak adalah sumberdaya terbatas: kapan minyak akan habis tergantung pada pembahasan ahli, tetapi kenyataannya bahwa bahan tambang itu akan habis dan tidak perlu diragukan. Terlebih lagi, bahkan sebelum sumur kering, spekulasi mendongkrak harga, sehingga minyak akan semakin tak terjangkau bagi lebih banyak orang lagi. 

Minyak adalah satu-satunya alsan bahwa kita yang di Barat bisa menjalani kehidupan kita seperti sekarang: kehidupan yang tidak bsa dibenarkan dengan alasan apapun. Pemerintah mungkin bisa menyelamatkan bank-bank pada waktu itu seperti saat terjadi krisis kredit tahun 2008: sayangnya, kita juga mendekati apa yang disebut George Monbiot sebagai “krisis alam”. Kita meluncur menuju bencana lingkungan dan kontrak-kontrak ekonomi, apakah uang akan terus dilihat sebagai jaminan rasa aman? Atau apakah hidup dalam komunitas akrab, yang telah mempelajari kembali kemampuannya untuk bekerja sama dan berbagi demi kebikan bersama, akan kembali berperan?

Begitu banyak perubahan yang terjadi belakangan..Jika dibandingkan dengan masa pada 20 tahun yang silam, sekarang kebanyakan orang hanya tertarik pada hak milik masing-masing dan tangga karirnya. Tidak penting pada dinding yang seperti apa tangga itu disandarkan, yang penting mereka sudah bisa mendakinya.


PT PLANET BUMI

Uang memungkinkan kita untuk menyimpan kekayaan dengan sangat mudah dan dalam jangka waktu lama. Jika kotak penyimpan dibawa pergi, akankah kita masih punya dorongan untuk mengeksploitasi planet ini dan semua spesies yang menghuninya?. Tanpa ada jalan untuk “menyimpan” keuntungan jangka panjang secara mudah, kemungkinan besar kita akan cenderung untuk mengonsumsi sumber daya hanya sebanyak yang kita butuhkan. Jika uang tidak pernah ada, maka seseorang tidak akan mengubah pohon-pohon di hutan hujan ke dalam angka-angka di tabungan. Sehingga mereka tidak punya alasan nyata untuk menebang satu hektar hutan hujan setiap detiknya. Dan tentunya akan lebih bijaksana jika kita menjaga pohon-pohon di Bumi sampai kita benar-benar membutuhkan mereka.


Ironisnya, hal yang terjadi pada saat ini adalah; kita tengah menguangkan aset-aset kita dan menggunakan keuntungannya untuk membeli produk-produk yang mudah rusak. Ini merupakan strategi bisnis jangka panjang yang tidak direkomendasikan oleh pengusaha manapun. Pada 2009, Kalle Lasn, pendiri majalah Adbuster berkata:
…Kita menjadi kaya dengan melanggar salah satu prinsip ekonomi: kita tidak boleh menjual modal kita dan menyebutnya sebagai pendapatan. Namun, selama 40 tahun terakhir kita telah menebang habis hutan hutan, memancing di sungai dan lautan sampai ke ambang kepunahan, dan menyedot minyak dari bumi seolah-olah minyak adalah persediaan yang tidak terbatas. Kita telah menjual habis modal alam kita dan menamakan itu sebagai pendapatan. Sekarang, bumi kita, seperti juga ekonomi kita, telah dilucuti..


PERBEDAAN ANTARA MENJUAL DAN MEMBERI

Semakin SEDIKIT perbedaan yang ada antara kepala, hati, dan tangan, semakin dekat kita pada kehidupan yang jujur
Ketika kita bekerja untuk orang lain, di luar apa yang kita lakukan untuk keluarga dan teman-teman, hal itu hampir selalu menjadi buah pertukaran: kita melakukan sesuatu karena kita mendapatkan sesuatu sebagai balasannya. Ketika anda memberi dengan Cuma-Cuma, tanpa ada alasan kecuali kenyataan bahwa Anda dapat membuat hidup seseorang lebih menyenangkan, tindakan ini akan membangun ikatan, persahabatan, dan pada akhirnya membangun komunitas yang tangguh. Namun sebaliknya, jika sesuatu dilakukan hanya untuk mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, ikatan seperti ini tidak tercipta.

Aku lelah menyaksikan kerusakan lingkungan yang terjadi setiap hari dan memainkan peranan didalamnya, betapapun kecilnya. Aku bosan memberikan uangku ke bank, yang walaupun disebut etis, tapi tetap mengejar pertumbuhan ekonomi tak terbatas. Aku bosan meilhat keluarga-keluarga dan tanah-tanah dihancurkan di Timur Tengah agar kita di Barat bisa memperoleh bahan bakar untuk hidup dengan energi yang murah. Aku ingin lakukan sesuatu untuk ini. Aku menginginkan masyarakat dan persahabatan. Aku ingin melihat orang-orang berdamai dengan planet ini, dengan diri kita sendiri, dan semua spesies lain yang menghuninya.



Sources: Moneyless Man, by Mark Boyle

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Posting Komentar